Citraan Pengecapan: Ikan Sarden Rizki Amir

Temanya, tidak baru, sudah mulai banyak yang menggarap makanan sebagai tema atau jalan pengucapan. Tapi, sajaknya gurih. Seperti ikan sarden yang tak pernah gagal membangkitkan selera makan

Catatan Pengantar:

CITRAAN yang paling kerap dipakai dalam puisi Indonesia modern adalah visual dan suara. Padahal ada tujuh citraan utama dalam puisi: Selain 1. citraan visual (penglihatan), 2. citraan auditori (suara); ada juga 3. citraan taktil (rabaan/sentuhan), 5. citraan gustatori (pengecapan), 5. citraan olfaktori (penciuman), 6. Citraan organik (emosi internal), 7. Citraan kinestetik (gerak, energi). CITRAAN yang paling kerap dipakai dalam puisi Indonesia modern adalah visual dan suara.

Rizki Amir menulis puisi tentang makanan. Saya berharap dia mengambil kesempatan besar untuk membangun citraan gustatori (pengecapan), atau olfakotori (penciuman). Pada beberapa sajaknya saya menikmati itu. Saya bisa membayangkan uap jahe, atau daun bawang. Atau sayup-sayup rebusan santan. Bau kerang atau saus tiram.

Sayangnya dia tak memanfaatkan kesempatan untuk menjadi unik dengan menggarap citraan itu, apa yang sangat jarang dimanfaatkan dalam puisi Indonesia. Dia punya kejelian itu. Dia tampaknya tahu benar dunia kuliner dan gastronomi.

Saya tidak bicara soal kekurangan sajak Rizki Amir, saya hanya berharap ia melakukan sesuatu yang ia mampu melakukaknnya. Selebihnya saya menikmati sajak-sajaknya. Temanya, tidak baru, sudah mulai banyak yang menggarap makanan sebagai tema atau jalan pengucapan. Tapi, sajaknya gurih. Seperti ikan sarden yang tak pernah gagal membangkitkan selera makan – ha/LS

Sarden yang Ringan

1.
telah kusiapkan kaleng kosong untuk kita tempati. meski air hujan bergegasan dan tawa-tangis silih-ganti. lekuk dan lekuk. memang, anakku, pelukan kerap tak sepadan. seperti jumlah burai di juni ini. juni yang paling sulit kita nikmati. di subuh hari, anakku, ketika setiap orang menyimpan ikan-ikan dalam tas belanja, diam-diam aku mengumpulkan sisa daun bawang dan menyusunnya jadi migrasi di balik tutup panci. di antara mimpi dan unggun api: jahe kumemarkan, bumbu kuhaluskan.

2.
seandainya aku bisa memilih maka hanya kupilih satu ikan yang ringan. ikan dengan daging lembut sepanjang lengan. yang akan kulumuri jeruk nipis dan garam, kupotong jadi enam bagian. sebab, di timbangan sebelah sana, nasib seperti perjalanan yang tak tercatat. tapi aku tak mampu mengudar dapur yang gemetar. bukan, itu bukan batas kaki meja yang sederhana. lalu lapar berhenti sejenak. kemudian kamu menjawil dan menanya: “perutku seperti laut, bu. tapi mengapa tidak ada ikannya?”

2018

Setengah Sendok Makan

1.

kumpulan resep lesap di keningmu ketika kelapa menyimpan bau tanah india. bagai pinang dibelah dua, kamu ubah gulai kurma serupa makanan siap sedia. “makanlah. sebelum pohon musim berubah warna,” katamu. tapi di sini, orang-orang tak mau membaca kemurungan yang lebih tinggi daripada urat nadi. ada dua kemungkinan: mereka mengeja menu berbeda atau mereka cium album keluarga.

2.
di belanga, santan dan jintan adalah jalan bandar. tapi kenyang adalah hal yang tidak direncanakan. kamu adalah rempah dari pasar yang panjang dan pagi yang menghabiskan kecemasan akhir pekan.

tak ada tepukan. di meja itu seseorang mendorong setengah sendok makan hingga jauhari membuka tudung saji. dan menemukan kekasihnya. setelah itu cerita tentang kota tua dan cinta yang merana.

2018


Indeks Penyambung Lidah

aku beri nama tiap hidangan yang bersantan dari balik bilik dapur ini dengan namamu. nama yang mengunyah sekaligus menyambung lidah. supaya nyala doa yang menghuni belanga tetap jadi tanda tanya. dan setelah puluhan malam, setelah ucapan yang gemetaran, yang lekat di tiap suapan, bukan kecemasan dalam demam semata. di meja makan, kamu pernah berkata padaku: “setelah kuserahkan senyum salam perpisahan, maka semua kangen di hari sabtu akan melambaikan tangan kepadamu.”

tapi, ternyata (setelah senyum salam perpisahan), yang berjajaran malah pilihan jajan dan makanan dari cinta yang jauh ditinggalkan. apakah batasan dari perjalanan dan guyonan-guyonan jika bukan sepiring kenangan. dan hampir tidak ada seukuran dada yang kamu diamkan di tiap suap-sesapnya.

2019


Kerang Bakar Jimbaran

di antara satu batang serai dan satu sendok garam, rasa lokal membuat kesetiaan mendapatkan lapar dan seafood yang menolak bergerak. dan alih-alih membantu menu utama juru masak ternama, kita hanya sisihkan kerang hijau dari keranjang. tetapi kerang-kerang itu tahu, tiap olesan bumbu adalah perjalanan lain ke lautan yang berbuih dan harum.

memang, di sana tak ada lagi saus tomat botolan. hanya bau madu dan sisa kisah petualangan. asap berubah jadi bayang yang membentang di antara tangis seorang perempuan dan sebuah keputusan

untuk pulang. sebab beberapa belas detik setelah disiram saus tiram, bakaran kerang dari jimbaran siap sajikan di hulu segala muara. karena itu, kita lambaikan tangan ke arah matahari terbenam.

2018

Ujang Saefudin: Yang Kuat yang Bicara Sendiri

Ujang Saefudin kita harapkan lebih banyak menyuarakan suara hati Cianjur, orang-orangnya, alamnya, dinamika kehidupannya, lewat mata seorang penyair yang hadir, besar dan hidup di dalam dirinya.

TERHADAP sajak-sajak Ujang Saefudin berikut ini saya merasa tak perlu lagi memberi pengantar. Sajak-sajaknya sudah menjadi. Sudah dengan kuat bicara sendiri. Ia sudah dengan tekun dan cermat mengurusi sentimen-sentimen kecil dalam dirinya menghidupkan dan dihidupkan oleh kata-kata yang ia pilih dalam puisi. Seorang lagi juru bicara Cianjur hadir. Ujang Saefudin kita harapkan lebih banyak menyuarakan suara hati Cianjur, orang-orangnya, alamnya, dinamika kehidupannya, lewat mata seorang penyair yang hadir, besar dan hidup di dalam dirinya. – ha/LS

Hanya Hiburan Sederhana

hanya hiburan sederhana
senyuman di terang kursi
mata lelaki menuju ramai

dan wanita di antara sepi
hanya mampu memandang bulan
sambil menikmati kisah
yang mengepulkan gelisah

kata-kata bukan untuk mengubah perasaan saja
hanya waktu malam tinggal seperempat
lelaki perlu mengekalkan jejak dari sibuk
sebab yang dekat di luar pandangan
perlu kehadiran sebagai penangkal rindu

hanya hiburan sederhana itulah,
suara semakin nyaring
batin semakin kering
tapi mata semakin tajam
mengingat wajah yang hangat
dan mungkin takkan berkarat
walau jalan sampai akhirat

Cianjur, 2018

Alih Profesi

Akhirnya aku memutuskan
mengganti pakaianku yang sudah kelelahan.
Sebab tak menjamin identitas dan kemewahan nurani,
Sebagai banting tulang yang seharusnya
menyelamatkanmu dari arus kehidupan.

Mimpi memang mudah diterjemahkan
Tapi begitu sulit dipahami dan cermin dirimu sendiri
aku akan beralih profesi
Menjalani musim paling nyeri.

Cianjur, 2019

Sosok Yang Diam

Kita begitu dekat seperti jalan dan kerikil
cahaya tak ubahnya mengoyak getir tandus
tak ada tanya, selain keringat dan haus
membawa kabar pungkas ikhtiar

Musim ke musim seperti akan mati
menarik kaki langit dari punggung pagi
sampai malam kembali menahan
nafas setengah bau
mendengus penawar rindu

Kembang layu di pot menatapku
sesaat padi menguning
menjulai serupa katumbiri di senja hari
hilang tanpa isyarat lain yang disebut sepadan:
hujan berganti panas,
siang berganti malam
mati tumbuh lagi.

2018

DI RUMAH KAWANKU

Ini rumah sempit
Lepas di bawah bukit
Pohon ke pohon menghimpit
kita bertiga diam saja
aku, temanku dan ayahnya
sudah lama kita tak bertemu

temanku meminta saja
pada jiwa senja
tinggal setengah tenaga
tapi tak ada kecewa
merawat cinta padanya

aku berpaling dengan nada
menawarkan peran pada rangka
memberi pesan
pada rumah yang ramah menyapa
titah jadi iba
aku tak suka menyangka
dan kau diam saja

2018

Yang Datang Yang Menang

Hang, siapa yang datang dari sejarah panjang
Mengundang cinta merebahkan peluk
Diri berkecamuk, amarah menyala
Dan ia mengibarkan selendang mawarnya

Aku dan masa depan tua
Mengayuh perahu hidup sampai salat
Jiwa karam di tengah selat
Langkah menolak lambat

Mereka dengan pedang dan perang
Menjadi lebih pandir
Menutup ketidak-sejalanan ini
Dan aku hawatir sekaligus getir

Pada baju, kata-kata dan rindu yang koyak
Berulangkali dibenturkan pandangan
Sekali aku bercerita pada Malaka
Tak dapat menampung keringat
Pasrah diangkat cuaca jadi air mata

Pijakan-pijakan pecah
Langkah tak tentu arah
Mungkin kau tahu Hang, mengapa diri gamang
Rupanya yang datang seorang penggali
Dengan cangkul, tali, dan belati

Yang datang yang menang
Selendang mawar semakin berkibar
Pedang menebas tubuh dan ingatan
Padung tertancap tepat di atas nama

Kini ombak dan laut di tepi sana
Mungkin tak lagi membaca nama
Hanya tanah yang setia
Menjadikan hidup semakin ada
Dan tak pernah berdusta

2019


Ujang Saepudin, Lahir di Cianjur 05 Juni 1996. Sekarang tinggal di Cipanas, Kp. Rarahan RT. 04/RW 08 Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Suryakancana Cianjur. Beberapa puisi dimuat di harian Pikiran Rakyat, Harian Waktu, antologi bersama HPI Riau 2018, Kunanti di Kampar Kiri, Antologi Puisi Pestival Seni Multatuli Lebak Banten 2018. Antologi bersama Festival Sastra Internasional Gunung Bintan. Aktif di Ruang Sastra Cianjur (RSC). Email: ujangs085@gmail.com. WA: 085220007240. No. Telp. 083112722681.

Gian Bakti: yang Bergerak antara Ide dan Suasana!

Sajak “Di Perpustakaan” terasa istimewa karena ada ide besar yang disisipkan tanpa mengganggu suasana yang dibangun. Tiga sajak yang semuanya bagus, tapi saya paling suka pada sajak yang terakhir ini.

Catatan Pengantar: Tiga sajak Gian Bakti berikut ini rasanya cukup untuk membicarakan satu tema yang tak baru dalam puisi Indonesia, yaitu soal perbedaan puisi ide dan puisi suasana. Pada suatu titik perkembangan puisi Indonesia tema ini pernah menjadi pembicaraan yang intens. Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, saling sorong gagasan, saling balas argumen, dan pendapat masing-masing.

Puisi ide adalah puisi yang membawa satu gagasan. Meskipun harus lekas dijelaskan tak ada puisi yang tak membawa gagasan. Sedangkan puisi suasana (atau puisi imajis) adalah puisi yang terutama membawa suasana tertentu, meskipun harus lekas disebutkan juga bahwa tak ada puisi yang tak membangun suasana tertentu.

Lantas apa bedanya? Bedanya adalah kandungan muatannya lebih berat ke mana. Gagasannya kah? Atau suasananya? Puisi suasana atau imajis kadang terasa seperti nonsens, tak membawa ide apa-apa. Ia memikat karena suasana menyaran yang terbangun padanya. Puisi “Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari” karya Sapardi Djoko Damono, bisa dibaca sepenuhnya sebagai puisi suasana. Puisi itu seakan tak ingin menyampaikan apa-apa. Tapi, kita tak bisa katakan ia tak mengandung ide apa-apa. Sajak itu bisa kita simpulkan bicara soal keserasian atau kepasrahan manusia terhadap alam.

Sajak “Tentang Seseorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum” karya Goenawan Mohamad, bisakah itu kita sebutkan sebagai puisi ide saja? Tidak, karena suasana yang terbangun kuat sekali. Meskipun ia berangkat atau seakan ingin menyampaikan sebuah gagasan, tentang betapa rawannya situasi menjelang pemilihan umum pada hari-hari ketika sajak itu dituliskan.

Penulis puisi saya kira harus memiliki pengetahuan itu. Lalu menulis sajak dengan penuh kesadaran hendak membuat apa. Sajak idekah? Atau sajak suasana? Atau meleburkan batas antara keduanya?

“Kau Tahu” terasa seperti hendak membangun suasana tertentu. Sebuah upaya yang berhasil. Begitulah umumnya suasana dibangun dalam sajak. Ia tidak memaksa, tapi lembut menyaran. Sugestif. Pembaca mengikuti dan menikmati saja.

Sajak “Ibu Dunia” terasa berat dengan ide. Gagasan yang ingin disampaikan memang sampai, tapi bagi saya sebagai pembaca ia seperti beban yang mengurangi nikmat saya atas sajak itu.

Sajak “Di Perpustakaan” terasa istimewa karena ada ide besar yang disisipkan tanpa mengganggu suasana yang dibangun. Tiga sajak yang semuanya bagus, tapi saya paling suka pada sajak yang terakhir ini.

Sajak “Di Perpustakaan” terasa istimewa karena ada ide besar yang disisipkan tanpa mengganggu suasana yang dibangun. Tiga sajak yang semuanya bagus, tapi saya paling suka pada sajak yang terakhir ini.

Penulis dengan nama lengkap Gian Bakti Gumilar (Bandung, 3 Juni 1997) ini, kini sedang belajar di Politeknik Negeri Bandung, dan mendirikan dan aktif di komunitas Menara Literasi. ha-LS


Kau Tahu

Kau tahu aku menyukaimu seperti udara beranda yang kau hirup perlahan saat membuka jendela pagi tadi

Akan kutunggu kesempatan pagi yang lain demi menyapu bibirmu yang semanis strawberry

Aku adalah kaus kaki longgar yang kau biarkan menua dibalik sepatu bertali biru

Merasakan bagaimana dasar tubuhmu itu timbul tenggelam di dekatku

Aku adalah tas ransel berat yang kau isi penuh dengan harapan dan penantian terdalam

Aku adalah rasa kantuk yang menguasaimu setelah membaca lembar terakhir buku barumu

Aku adalah kebosanan yang berdebar saat kau duduk di kursi paling belakang sebuah bus kota

Aku adalah sisir tumpul di meja riasmu dimana aroma rambut itu tersimpan dengan teliti

Aku adalah siulan burung kecil di halaman depan yang diam-diam merekammu

lalu terbang rendah setelah melihat hidung mancungmu; tempat kacamata itu bertengger malas

17 Februari 2019

Ibu Dunia

Seperti halnya orang-orang Mesir berdoa:
Rabbi Jagalah Mesir, Ibu Dunia!

Karena ibu bagi kami bukan lagi ihwal masakan

Ia memastikan mayapada siap dihadapi oleh tiap anaknya

Karena langit dengan teliti menulis doanya
di waktu pagi dan petang.
Dan sunyi malam menikmati
sujud-sujudnya yang dalam.

Maka seperti Ummudun-ya:
Mesir memulai peradaban
Kita akan melihat cita itu mewujud
melebihi tinggi bangunan Giza
Dan Nil yang deras bagai lautan.

Sehingga sorot mata ibu yang sendu
adalah samudera yang luas
rengkuh dekapnya
Dan entah sampai kapan
kami selesai menyelami kebaikannya

Selayaknya orang-orang Mesir berkata
bahwa ibu adalah lautan: Mishrun Bahrun.

18 Oktober 2018

Di Perpustakaan

Aku menyukaimu
ketika kau membungkuk
di depan rak buku
mencari nama kita
di sela judul
dan huruf

Kau menjadi ringkih
melihat debu-debu
yang kau sapu lembut
di sampul
dan halaman

Kau memeluk buku
satu dua pilihanmu
tersenyum tipis padanya
dan bergumam haru
petualangan baru apa
yang telah disiapkan

Tak ubahnya pemuja
kau kerlingkan matamu
di tiap langkah jari
setiap sudut kau jamahi
gerangan apa
yang sedang kau lamunkan
kebebasankah?
Sebab dunia
memenjarakan kita
dalam ponsel
dan citra maya

Sekarang kau duduk
kokoh dan anggun
membalikkan kata
pertama kedua
sebab sudah tugas kita
menghargai setiap jengkal
yang tercipta
dari juru tulis
dan juru kisah

5 Desember 2018

Ng. Lilis Suryani: Maut yang Mengajak Merokok di Beranda

Selamat datang di peta kepenyairan Indonesia. Keriangan yang sublim, yang tetap menawarkan permenungan perlu dipertahankan.

Catatan Pengantar: Tirai masuk ke dunia puisi itu barangkali berupa selaput tipis saja tapi kuat. Ketika seseorang berhasil membawa bahasanya masuk menembus selaput tipis itu, kita melihatnya begitu dekat, seakan tak berjarak. Akrab. Tapi, begitu kita sendiri yang mencoba kita akan tahu bahwa usaha untuk menembus batas itu bukan perkara yang mudah.

Sajak-sajak Ng. (diucapkan Neng) Lilis Suryani, lahir di Cianjur, 10 Juli 1996, yang kali ini kita tampilkan membawa situasi semacam itu. Singkatnya ia sudah menemukan puisi. Ia menyair dengan riang, tak terasa ada ketegangan, tapi ia menyair dengan intens. Proses yang seperti itulah yang bisa menghasilkan larik: sore menggiring aroma awal musim kemarau. Imaji yang hidup, bahkan liar. Juga, seperti menanam benalu di keningku, simile yang membangkitkan berbagai penafsiran.

Kepadanya, perlu kita ucapkan selamat. Selamat datang di peta kepenyairan Indonesia. Keriangan yang sublim, yang tetap menawarkan permenungan perlu dipertahankan. Bait seperti ini, Ada sisa gerimis di kaca jendela / Ada maut yang dekat / Mengajak menghisap rokok di beranda, sudah lama tak terbaca, setelah dulu Subagio Sastrowardoyo mempertegaskan dalam puisinya.

Tambahan: penyair kita ini sekarang kuliah di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Indonesia. Pernah aktif di Komunitas Sastra Cianjur dan Sanggar Puisi Lincak. Suka memasak, menulis, dan mengagumi Sting. ha/LS

SATU DAN LAIN HAL

Sore menggiring aroma awal musim kemarau
Sementara hatiku menginginkan sebagian hujan
Sebagian lagi membentuk kubangan kecil
Tanpa dasar untuk dipijak di tengah jalan bebatuan

Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan
Seperti matahari seharian membawa memar
Melenggang pulang sendiri

Semua itu seperti kepastian yang baik
Namun, seringkali menghilang tanpa berbalik
Tidak ada kekuatan yang cukup
Setelah segalanya tumpah dan lenyap

Kehilangan selalu tiba-tiba
Ada yang pulang tanpa pamit menjadi biasa
Ada yang diam-diam kita lupakan tanpa terasa
Dan banyak hal dari dasar mimpi kita
Jadi lenyap, tercerabut, juga nista

Ada sisa gerimis di kaca jendela
Ada maut yang dekat
Mengajak menghisap rokok di beranda

Yogyakarta, Juli 2019

MENGUPAS

(1)
Aku mengupas sebutir telur
Berharap kau pulang
Sebab bagiku, berbagi denganmu
Seperti menanam benalu di keningku
Enggan yang tidak berkepanjangan

Sambil mengupas ingatan
Kata-kataku terus mengantuk
Kumulai doa hingga ranum
Agar kulit yang terbuka
Dan kenangan sepanjang malam
Tidak cepat jadi busuk

“Bukankah sepi, urusan masing-masing”

(2)
Kurangkai hidup serapi mungkin
Harapan terus kureka
Hingga rambutku terus memanjang
Telur tuntas kukupas berpuluh keranjang
Namun yang lagi-lagi datang
Hanya kata-katamu yang lengket di kuku

“Tabah, juga perkara kekuatan masing-masing.”

Yogyakarta, Juli 2019

KALIMAT LAPAR BAHASA REMPAH

I
Di balik rak yang gelap ini
Piring dan gelas mematung menanti isi
Tungku redup malu-malu
Api tak cukup menyala dari dada

Ah, singkong yang tega
Tak satupun mencuat mengganjal perut
Ah, tanaman sayur yang sakit
Mengapa manja menunggu hujan tiba
Ah, tudung yang murung
Dengan lagu kosong apa lagi
Kutimang anak-anakku
Dan tanah air bagi kami
Ialah tempat menahan lapar

II
Suatu hari wajahmu riang mengiris bawang
Biji ketubar berlari-lari
Lada yang nakal berseteru dengan cabai
Semoga kau senantiasa sabar
Menerjemahkan aroma ke rasa lapar

Gula menggoda garam yang diam
Kunyit yang kau kupas
Menyususp ke serat serai yang tegas
Meski tak memahami bahasa rempah
Kau tahu bahwa bumbu
Tidak meresap ke batu-batu

Yogyakarta, 2018-2019

MEKAR LALU LAYU

Rupa bunga disibak angin
Dalam rerumputan
Yang luput diterkam dingin
Hingga bunga berubah warna
Sukar dipetik enggan ditanam

Pikiran kita tanaman liar
Tubuh kita bebunga mekar
Kemudian dengarlah isyarat
Kita sama tahu kapan harus layu

2016

AGAMA PUISI

Gincu luntur ke baju
Dandanan menguap dari badan
Surga yang katanya di kanan
Melarikan diri ke bagian kiri

Jika agamaku adalah puisi
Maka selamatlah segala luka
Yang hendak melarikan diri

Ayolah Daffa: Mendakilah Lagi!

Ia harus keluar dari tingkat itu. Ia harus mendaki laki. Membuka jalur pendakian baru untuk sampai pada pencapaian lain. Puncak puisi itu tak ada batasnya. Ayolah, Daffa, mendakilah lagi.

Catatan Pengantar: Muhammad Daffa pernah kita muat sajaknya di Lahir Sajak. Ia tergolong penyair muda yang produktif. Gairahnya melahirkan sajak tinggi sekali. Dua buku sudah ia terbitkan. Bakatnya mendukung semangatnya itu.

Tampaknnya ia sama sekali ta kesulitan mengolah lintasan ilham atau momen puitik menjadi puisi. Puisi-puisi beres. Tak bermasalah. Tapi, itulah masalahnya. Puisi-puisi terlalu beres. Ia bicara soal sepi, kopi, pencarin diri. Tema-tema berulang tanpa terlihat upaya untuk keluar dalam jalan aman yang selama ini ia tempuh.

Ia seperti yakin telah sampai pada satu tingkat dan menikmati pencapaian itu. Ia bisa diterkam bahaya. Ia bisa terjebak kenyamanan. Ia harus keluar dari tingkat itu. Ia harus mendaki laki. Membuka jalur pendakian baru untuk sampai pada pencapaian lain. Puncak puisi itu tak ada batasnya. Ayolah, Daffa, mendakilah lagi. ha/LS

AMSAL KOPI

matamu utuh
terjerang malam
kata luruh
menjamu tubuh
bunga-bunga luka

kurawat tekun kehilangan
agar setiap yang pergi
merawat jalan sepi
seluas amsal kopi

serupa jiwa-jiwa melayang
membentuk bayang
tak kenal hilir dan muara

banjarbaru, juli 2019

ANASIR PEJALAN BUTA

aku pejalan buta yang menempuh subuh ke subuh, hening mengayuh derak daun-daun, langit
yang rubuh
tergesa menangkapku, sebelum gugur, sebelum gugur imaji yang berlompatan menyusun tualang
sendirian
baca aku dalam puisi-puisimu, kata-kata yang tak punya wajah, berdalih mimpi, mencari-cari
lembar peristiwa
berkabar kematian kota-kota, dibunuh mata penyair, mengasah keajaiban-keajaiban, kurindukan
pulang
kurindukan pulang sebagai ilustrasi rindu mengabut dalam doamu

banjarbaru, juli 2019

SUBUH HENING MENGULANG

adakah subuhmu hening mengulang, frasa kematian, jalan yang membelukar sunyi, kembali
sunyi
selain puisi yang luput dicatat, kembang-kembang malam, gugur kelopaknya satu-satu, aku ingin
penyair
yang tak menenun firasat! katamu. hari selalu punya dalih, melepas amsal cahaya, menelikung
batas mimpi
dirayu mata kopi, menjejal ajal sebelum limbung, sementara hidup terjerang makna angin,
datang-pergi, mengulang waktu yang retak
kita tak mencari. masih hening puisi. adakah subuhmu mencari frasa terakhir, lagu pengantar
tidur yang panjang, sebelum gugur ajal
selain puisi, kembang-kembang malam, gugur kelopaknya satu-satu

banjarbaru, juli 2019

KOPI PECINTA MALAM

malammu tak menyahut
kunang-kunang bernyanyi
laut segala duka

bulan jatuh
berdenting
menggusur hitam riak
arus kopimu
menyeduh air mata

izinkan aku gugur

mencari tamsil kehangatan
tak berjeda
mencintai malam
sekudus-kudus mata
sekhusyuk-khusyuk raga

banjarbaru, juli 2019

MENCARI SUNYI

sunyi kucari
sepasang matanya mengerkah jalang
menimba kuburan rima
dalam kepala para penyair
tertikam makna yang sungsang
luput ditulis lembar-lembar surat kabar

banjarbaru, juli 2019

Ajiti Puspo Utomo: Apa yang Cirebon pada Sajakmu?

Penyair punya “tugas” untuk menjadi perwakilan mata orang banyak, melihat, menangkap, dan mengolah imaji-imaji lokal itu menjadi sesuatu yang berharga dalam puisi yang ia tulis

Catatan Pengantar: Ajiti Puspo Utomo (lahir 27 Mei 2000) ini punya bekal untuk menjadi penyair yang kuat. Ia punya kejelian menangkap hal-hal kecil (Di Tepian Buku Ini adalah Kenangan). Ia tekun mengolah imaji meskipun tak selalu berhasil. Ada yang berhenti pada klise (Di Malam Lailatul Qadar, Kaleidoskop), ada yang menjadi sangat segar (Menjadi Diam kepada Sepi, dan terutama pada Zamzam 1).

Aji kini tinggal di Desa Kedawung Blok Cantilan, RT 09, RW 04, Kec. Kedawung, Kab. Cirebon. Kuliah di IAI Bunga Bangsa Cirebon. Saya selalu percaya ada banyak hal di sekitar tempat tinggal kita yang berharga untuk diangkat menjadi puisi, apa yang pasti tak dilihat oleh orang lain yang tak tinggal di kota kita. Kepada Aji, bisa kita ajukan pertanyaan: apa yang Cirebon pada sajakmu?

Penyair punya “tugas” untuk menjadi perwakilan mata orang banyak, melihat, menangkap, dan mengolah imaji-imaji lokal itu menjadi sesuatu yang berharga dalam puisi yang ia tulis. Sementara ia mengangkat khazanah imaji lokal, puisinya harus mencapai juga nilai-nilai universal. Jika mau gagah-gagahan, jargon lama globalisasi berlaku di sini: act local, think global.

Di Tepian Buku Ini adalah Kenangan

Bekas tangan yang tertinggal pada kertas ini
Adalah sebuah perpisahan; perumpamaan tiada ujung
Angin yang menggaung keras kepenjuru bumi
Dan butiran pasir yang kau tumpahkan paragraf demi paragraf

Apakah sama halnya ketika yang lain berdoa
Dalam balutan amin, kau berubah menjadi hening yang dingin
Meninggalkan tinta pada tepi buku ini
Tanpa mengapa dan kenapa?

Namun barangkali sudah, buku ini kau baca
Aku hanya ingin mengenang
Bagaimana puisi ditulis dengan adanya kerinduan yang mendalam

2019

Kaleidoskop

Selama hidup adalah menghirup udara
Adalah selama kita memintal setiap kenangan
Yang sudah berserak di atas ranjang kita

Dan selama itulah detik dan jam,
Hari dan bulan juga tahun
Akan selalu menjadi teman kematian

Yang kita perlukan hanyalah pelukan
Pada setiap inci tubuh kita yang terburai
Dalam kerinduan masing-masing

2019

Menjadi Diam Kepada Sepi

Hitunglah setiap percikan kenangan yang hangat
Pada tubuhku, pada senyumku
Bagai angin yang hilir mudik mencari gua batu
Dan hujan yang mencari kekeringan di ujung sana
Lautan keringatmu menjadi jalan pulang
Bagi kata-kataku

Namun tidak lagi sekarang
Tahun rindu sudah bernyanyi, sudah berdendang
Lagu yang mampu membuatmu jauh dari pelukanku
Puasalah aku bersama sepi yang menggunung
Kau hilang dari penaku
Kembali aku berdiam dan berkhalwat pada bukit kenangan

2019

Di Malam Lailatul Qadar

Daripada kau
Kata-kataku untukNya lebih baik dari seribu bulan

2019


Zamzam 1

Air yang baik
Takkan pernah tumpah
Pada cekung matamu
Yang melimpah

2019

Mufti Perdana Avicena: Antara Memperjelas dan Menyamarkan

Puisi bukan sekadar beraneh-aneh dengan bahasa, bukan cuma berindah-indah dengan ucapan. Puisi itu memaksimalkan tenaga bahasa. Puisi itu bermain-main sekaligus memuliakan makna.

Catatan Pengantar: Paradoks citraan dalam puisi adalah ia dipakai untuk menyamarkan tapi tidak menghilangkan. Ia tidak mengatakan langsung tak menarik perhatian dengan semacam sindiran-sindiran yang menyaran. Ia menutupi maksud tapi ada sebagian dari isi yang dimaksudkan itu tersibak yang justu membuat penasaran, yang menarik perhatian. Nyaris semua perangkat puisi bekerja seperti itu. Metafora misalnya. Itu alat ucap, strategi teks, yang menyamarkan tapi sekaligus juga memperjelas. Jika tidak maka mesin puisi tak berjalan dengan lancar. Apa artinya paku payung yang menatap pada tembok? Apa yang hendak disamarkan dengan bait itu? Apa yang ingin diperjelas dengan diri yang luluh ditimang lembayung yang menggendongku? Puisi bukan sekadar beraneh-aneh dengan bahasa, bukan cuma berindah-indah dengan ucapan. Puisi itu memaksimalkan tenaga bahasa. Puisi itu bermain-main sekaligus memuliakan makna. Sajak-sajak Mufti Perdana Avicena, lahir 9 April 1999, kini menuntut ilmu di Universiti Malaysia, sedikit bermasalah dalam hal itu. Saya bisa terpesona dengan nilai-nilai hidup yang ingin ia sampaikan lewat puisinya, tapi pesona itu redup sebab caranya menyampaikan membosankan. Ia sudah mencari tapi belum menemukan sesuatu yang benar-benar baru dan segar. – ha/LS

Sajak Sembunyi

Menatap paku payung yang menancap pada tembok.
Diriku luluh ditimang lembayung yang menggendongku
dari balik jendela besi berkarat.
Kau dalam air mataku, mengalir dari pangkal tebing kelopak mata asmara.
Engkau mendayung di atas kubangan air,
bergolak di dalam lubang yang menampungnya.
Pikiranku jungkir balik mendengar suaramu yang muncul entah darimana,
yang muncul setiap saat, yang kurindukan raganya.
Lupakah kau denganku kekasihku?
Lupakah kau dengan sejarah kita kekasihku?
Lupakah kau dengan angan-angan kita kekasihku?
Kau bersembunyi seperti plankton di antara alga-alga hijau.
Bersembunyi di balik waktu, di balik ruang.
Kau adalah sembunyi.
Lalu bagaimana dapat kutemukan dirimu,
Jika sembunyimu adalah hadirmu yang paling utuh?

Kuala Lumpur, 23 April 2019

Getaran Tali Alam

Aku mati ketika kau menghilang.
Kugantung dirimu yang hilang di atas pigura dirimu yang hilang yang kugantung di atas pigura dirimu yang hilang yang kugantung di atas pigura dirimu yang hilang yang kugantung di atas pigura dirimu yang hilang…
Cintamu yang hilang tak terhingga berjejer di samping cintaku yang hanya tiga belas buah.
Tatapan itu yang kunanti namun curiga ingin menghindari.
Bersama gita kau hadir mendaki tangga kalbu dari luar tubuhku yang berjalan gontai mencari asamu yang entah ingin sendiri atau sedang menyepi.
Asmamu menggema di relung hatiku yang terbentuk dari batuan-batuan sedimen yang terdiri dari serpihan-serpihan kasihmu yang berserakan karena kusia-siakan.
Penyesalanku tak berujung. Sesalku tak kunjung. Aku ingin kau menjengukku di atas ombak yang pecah menabrak karang-karang laut yang telah memutih. Seperti rambutku yang telah putih karena waktu ternyata mencintai hitam.
Terpasung diriku di antara ketidaktahuanku yang penuh bingung. Tak makan dan minum karena tubuhku dipenuhi air ombak yang asin penuh garam dan lumut. Hidup tak lagi semarak seperti ketika kedua orangtuaku masih hadir bersamaku, menimangku dalam cintanya yang murni. Hidup adalah waktu yang mencengkeram leher ringkihku.
Gadjah Mada bersumpah, aku menyumpah.

Kuala Lumpur, 19 April 2019

Renungan di Tepi Sumur

Menatap sumur gelap dengan dinding melingkar
Pandanganku ditarik ke dalam utuhnya ruang kehampaan
      hingga bunyi percikan air memantul di antara dinding sumur
      hingga aku menyadari waktu yang berjalan pelan

Sukmaku haru mengingat senja yang ingin mendekap kaki langit
menggugurkan ingatan hari tadi yang tersisih basi
Waktu membelai lembut mengasihani mereka
yang lelah dipasung oleh tanggung jawab dan ekspektasi
Dan hidup sedang berbincang dengan maut
tentang siapa yang akan menjadi miliknya

Kulumpuhkan indra penguasa persepsi
Melebur segala esensi sensasi
     menuju Dzat yang takterbatas
         pada keabadian diriku melaras

Tinggarjaya, 5 Juni 2019

Tandu

Aku menemukan diriku tengah mengulik kerangka tanyamu.
Melihatnya telah usang dan penuh debu,
nihil akan tukang dan perlu disapu.
Aku bersikeras menelaah melalui celah sempit
di pintu teras tubuhmu yang terbelah lelah.
Berguru pada sang suhu tak membuatku penuh ilmu kalbu.
Membacamu saja aku malu apalagi mencium pipimu yang rimbun dan perdu.
Sempat aku bertanya padamu,
“apakah rindu akan bertamu?”
Kau hanya mengangguk penuh setuju,
lalu minggat diangkat tandu.

Kuala Lumpur, 25 Maret 2019

Andika Pratama: Tantangan Menuntaskan Proses Distilasi Puisi

Kepadanya bisa ditanyakan kenapa dia tak memanfaatkan Samarinda sebagai sumber imajinasi, metafora, dan imaji puisi-puisinya? Sungai? Nasi kuning? Apa saja yang belum dimanfaatkan bahkan oleh penyair lain yang tinggal di Samarinda.

Catatan Pengantar:

Ada benarnya bila dikatakan bahwa menulis puisi adalah ikhtiar memadatkan ucapan dan memperdalam perasaan. Seperti anggur, yang jika tak difermentasi akan segera membusuk, tapi anggur yang jadi menjadi “abadi”, makin berusia makin bagus kualitasnya. Atau seperti menyuling atsiri. Mungkin hanya satu atau dua persen saja dari bahan tumbuhan yang terdistilasi menjadi biang minyak wangi.

Hidup adalah bahan bagi penyair untuk difermentasi atau didistilasi menjadi puisi. Pastikan bahwa proses itu berlangsung tuntas. Proses ini tidak bisa serta-merta, perlu benar menjalaninya dengan sabar. Andika Pratama (lahir 11 April 2000), dari Samarinda mengirim puisi yang memperlihatkan dia punya pengalaman hidup yang kaya untuk diolah menjadi puisi. Ia memberi perhatian yang luas pada hal-hal di dalam dirinya dan di luar dirinya. Juga hal-hal kecil seperti kapan ia mulai menyukai puisi. Kejelian dan ketekunan itu modal penting untuk menjadi penyair yang kuat.

Kepadanya bisa ditanyakan kenapa dia tak memanfaatkan Samarinda sebagai sumber imajinasi, metafora, dan imaji puisi-puisinya? Sungai Mahakam? Soto Banjar? Nasi kuning? Mal Lembuswana? Apa saja yang belum dimanfaatkan bahkan oleh penyair lain yang tinggal di Samarinda. Upaya itu perlu sedikit kerja keras tambahan. Tapi upaya yang tak instan pasti akan menghasilkan puisi yang tidak generik juga. Angin, pohon, November, dan pelacur di Samarinda pasti bisa dihadirkan dengan cara yang berbeda daru tempat dan kota lain. Puisi memberi tempat dan menghargai keberbedaan itu- ha/LS

OASIS

Air mukamu
Ada sesuatu di situ
Yang meneduhkan,
Oasis di padang tandus,
Pemandangan indah yang tak mudah
Terhapus

Izinkan aku menetap di benakmu
Menikmati dan menyaksikan
Bagaimana seluruh sel di tubuhmu itu
Bekerja tanpa haus

NOVEMBER

Kita jatuh hati di bulan November
Ketika matahari menyingsing di pagi dingin
Ditutupi awan abu-abu dan gerimis
Sunyi-sunyi yang berdesakan
Perlahan-lahan diminta pergi

ANGIN DAN POHON

Pohon-pohon itu tak tahu alasan
Mengapa angin yang sayup-sayup saling berbisik
Gemar menanggalkan daun dari tubuhnya
Dan meniupnya ke sana ke sini

Daun pun tak tahu
Ke mana angin yang kencang dan berisik
Meniupnya berkelana
Entah ke timur ke arah matahari pagi menyapa
Entah ke barat menyusul senja

Angin tak juga tahu
Ia hanya jalankan tugasnya saja
Meniup apa yang mesti tanggal
Tanpa tahu apa alasannya
Tanpa tahu ke mana tujuannya

BALADA TENTANG AYAH

Ayah tak pernah pulang
Ia berkelana ke mana-mana
Matahari suka menjilati kulitnya
Hingga berubah menjadi warna coklat keemasan

Ia gigih mencari makna hidup
Telapak kakinya telah mengeras
Diseretnya melalui aspal panas
Menapaki kerikil tajam tak berkesudahan

Darahnya tercecer
Dari langkah kakinya yang terseok
Ditemani keringat di keningnya
Dan debu jalan yang dihirupnya

Ketika ia pulang ke rumah, ia hanya tersenyum
Penuh luka, dengan sejuta hasil panen tak seberapa
Ia menangis karena takut rumahnya tak menerima panennya
Tetapi rumah tersenyum, memeluk dan mengobati sekujur tubuhnya

KELAM MALAM

Untuk Para Pelacur Ibu Kota

Lontar-lontar
Malam menipu
Siang dengan berkata
Langit adalah biru
Dan bukan hitam

Para pelacur sibuk
Menutupi kawah sana-sini
Dengan tebal bedak dan
Batang lipstik murahan

Bintang selaku alarm
Mengisyaratkan pameran
Menjaja diri telah dibuka
Untuk khalayak pria

Keluarga mana tahu
Di dalam gelap
Di kelam malam
Seperti apa dunia pelacuran
Di luar sana

Garis miskin, dan

Brosur kehidupan glamor
Adalah tuhan maha esa
Yang disembah dengan kelamin

Samarinda, 21 Juni 2019

Menulis Puisi: Mengenali Puisi

Yang kita peroleh adalah menemukan cara ucap dan pilihan tema yang khas milik kita, dan bonusnya lebih penting: kita menemukan siapa diri kita sesungguhnya

Menulis puisi adalah kesempatan untuk mengenal apa itu puisi. Ada memang orang yang berkata, setelah menulis ribuan puisi saya makin tak mengerti apa itu puisi. Itu seperti orang yang pacaran lama, lalu menikah. Setelah sekian puluh tahun bersama, ia bilang, “saya makin tak mengerti siapa pasangan hidup saya….” Mungkin dia memang tak pernah mencoba mengerti siapa orang yang hidup bersamanya itu. Atau ia dari waktu ke waktu mematok standar yang terus meningkat. Akan tetapi tentu saja saja bebas menganggap puisi itu apa artinya baginya, juga bebas memperlakukan puisi bagaimana. Menulis puisi, menghasilkan puisi, bisa menunjukkan apa arti puisi bagi penulisnya.

Ichsan Nurseha, lahir di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 1997, kini domisili di sekitaran Tangerang. Mengaku jarang menulis, tetapi ingin belajar lebih dalam mengenai puisi, cerpen, atau memahami drama. “…. dalam lingkup ‘sastra’ yang biasanya orang-orang sering bilang.” Saran kami, perbanyaklah menulis dan membaca.

Tak ada cara lain untuk tahu lebih banyak tentang apapun kecuali menggaulinya dengan lebih intens.

Menulis adalah membawa diri ke tengah arena pertarungan kehidupan. Jika kita kuat bertahan di tengah arena itu, kita akan keluar sebagai pemenang. Yang kita peroleh adalah menemukan cara ucap dan pilihan tema yang khas milik kita, dan bonusnya lebih penting: kita menemukan siapa diri kita sesungguhnya. – ha/LS


Mabuk

Akademisi yang terlanjur
Anggur telah tumpah di tanah kita.

Sehingga kemurnian yang
Utuh dan bulat telah pecah.

Karena gagasan dan kesimpulan
Telah menjadi air kencing yang
Tidak pernah disiram.

Sehingga bau pesing bergandengan
Dengan trotoar dan lampu-lampu jalan,
Menambah daftar tontonan kehidupan.

Tangerang, 3 Jun 2019.

Kesementaraan Rumah

Bau segar muasal daun merimbun
Di sekujur sisa-sisa kegelisahan
Masuk tentram dalam tubuhku
Terasa aromanya yang paling kesturi.

O, dewa langit!
Kenapa kau lesapkan angin
melalui busur setingkat durjana
menghunus kegelapan pada kalbuku?

Sehingga sukma yang pusaka
merasakan masygul yang tak terkira-kira;
Memikirkan asal-mula yang luput
Dari kepala setiap jiwa manusia.

Dan terpagut buaian
dalam kenyenyakan khayali
memikirkan menjadi langit
dari kelahiran yang paling bumi.

20:47(2018).

Laut

Aku yang mabuk
Terpompa gelombang.
Dari kerumunan
Dibuang ke tepian.

Basah, tubuhku rebah
Pasir sebagian jengah
Melihatku terus bertingkah
Melulu bertitah.

“Aku cinta padamu!”
Gemuruhku pada busa-busa
Dan biru laut yang tabah, menerima.

Sampai juga kusangsikan
Jatuhnya tipuan tetes air mata
Menyatu pada keluasan laut, menerima.
Aku biru sebiru-birunya
Menggigil
Angin dingin ditubuhku dipeluknya.

21:26 Tangerang.

Azain Ni’am: Perjalanan Awal Pencarian

Suatu hari dia pasti bisa mencapai puncaknya sendiri, puncak yang melampaui puncak-puncak puisi lain.

Catatan Pengantar:

Menulis puisi itu satu hal. Menulis puisi yang baik itu hal lain. Menulis puisi yang baik dan berkarakter itu hal lain lagi. Karakter itulah yang mungkin disebut sebagai gaya ucap. Penyair yang hebat menemukan bahasa, kata Sutardji Calzoum Bachri. Yang tak menemukan bahasa tak akan pernah menjadi penyair, atau Penyair (dengan P besar). Perjuangan panjang seorang penulis puisi yang ingin menjadi penyair, kemudian Penyair, adalah perjalanan menemukan bahasa, dengan kata lain menemukan dirinya sendiri. Puisi-puisi Azain Ni’am yang kita tampilkan kali ini harus kita baca sebagai bagian awal dari perjalanan panjangnya menemukan bahasanya, menemukan dirinya sendiri. Secara tema dan gaya ucap dia sudh memulai pencarian. Jauh berjalan, banyak melihat. Banyak melihat, banyak mendapat. Suatu hari dia pasti bisa mencapai puncaknya sendiri, puncak yang melampaui puncak-puncak puisi lain. – ha/LS

DOA SUBUH

Subuh itu telah membasuh tubuhmu
Ketika suara dari surau sebelah rumah
Menggerakkanmu ke gerbang Tuhan

Kau cium harum doa-doa di atas sajadah
Yang mengalir dari dadamu ke arah Sana
Hingga kau merasa begitu kecil—kosong

Di luar ada samar berkas-berkas cahaya
Di dalam ada diam hitam bayang-bayang
Meniti sunyi yang meretas di depan mata

Seperti seorang pertapa yang menanti firman
Kau tak henti-hentinya mencari wajah dirimu

Plumbon, 2019

PESAN JANUARI

Aku akan segera pergi di antara debur hujan
Dan debar angin; pergi dengan luka di badan

Kau lihat langit kian cemas, musim memaksa
Kita pasrah pada cuaca dan menanti matahari

Mungkin mekar bunga-bunga yang selama ini
Aku sirami akan membuatmu merasa bahagia

Atau subur tetumbuhan yang kita rawat selalu
Akan memanggiku untuk kembali kepadamu

Aku akan pergi darimu dengan penuh air mata
Dan kau cukup berdoa agar hilang segala duka

Plumbon, 2019

NISKALA

Deru kipas angin
Di dalam ruang

Malam hari

Adalah doa
Yang berputar

Di dalam tubuhmu

Adalah lagu
Yang membawamu

Ke luar dunia

Plumbon, 2019

IMPRESI

I
Malam membuka pintu:
Aku kini menunggumu
Datang dari luar diriku

Di mana kau sekarang,
Bayang di dalam terang,
Cahaya di dalam ruang?

II
Begitu saja detik terlepas
Dan kata-kata bergegas
Menuju sunyi yang pungkas

Di sini, di dalam puisi ini,
Apakah kau merasa sepi,
Apakah kau merasa sendiri?

Plumbon, 2019

SONETA MALAM

Aku telah membayangkan malam ini:
Aku akan duduk sendiri
Dan kau hanya kata
Tanpa gema

Waktu melambat dan berdebar
Ruang menggigil dan bisu;
Hujan deras di luar
Adalah caraku memanggilmu

Tapi seperti katamu,
Kau tak akan kembali,
Tak akan ada di sini

Dan malam tetaplah malam:
Mata yang menyimpan hitam
Dan putih cinta kita

Plumbon, 2019

Sajak-sajak Panji Aswan dan Kenapa Mengambil Jarak Itu Penting?

Penyair terlibat peristiwa. Tapi puisi ditulis setelah penyair mengambil jarak dengan peristiwa itu. Jarak waktu dan jarak peristiwa, apa yang memberinya ruang untuk merenung, membangun dan memberi makna pada apa yang hendak ia tuliskan.

Catatan Pengantar:

Penyair melihat kenyataan. Tapi puisi ditulis sebagai penglihatan di atas kenyataan. Kalau tidak maka hasilnya adalah reportase saja yang tak mengandung kualitas permenungan yang membuat puisi menjadi lebih berharga.

Penyair terlibat peristiwa. Tapi puisi ditulis setelah penyair mengambil jarak dengan peristiwa itu. Jarak waktu dan jarak peristiwa, apa yang memberinya ruang untuk merenung, membangun dan memberi makna pada apa yang hendak ia tuliskan.

Puisi spontan seringkali jatuh menjadi mentah dan transparan karena ketiadaan jarak itu.

Panji Aswan mencoba menggarap peristiwa aktual yang tentu saja menarik perhatian semua orang yang berhati dan berakal di negeri ini. Ia belum cukup sabar untuk bisa mengambil jarak yang cukup dengan peristiwa itu. Sebagai pembaca saya ingin ‘diberi lebih’ dari peristiwa yang saya sudah tahu itu. Puisi adalah derma penyair, memberi makna yang bisa membuat pembacanya lebih bijak menghadapi hidup lewat peristiwa yang dipuisikan.

Panji lahir di Samarinda tepat 25 tahun yang lalu. Aktif berkeliaran dan berkegiatan di beberapa komunitas seperti komunitas Jaring Penulis Kaltim, komunitas Buku Enam, Forum Diskusi Sastra dan Budaya SINDIKAT LEBAH BERPIKIR, Forum Lingkar Pena, dan relawan Aksi Kamisan Kaltim.
Masih berjuang untuk lulus di program studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman. Saat ini telah menjadi editor tetap di penerbitan Indie bernama PPMPI Publishing. Intip karyanya di panjiprosadanpuisi.blogspot.com. [ha/LS]


Bulan Mei

Bulan
Mei jadi suci
rakyat berpuasa,
penyair berpuisi

Mei
kamu tak lagi suci. manusia
sanggup menahan lapar
tetapi tak sanggup menahan emosi

Ambulans
Jadi rumah batu-batu
Bubuk mesiu
Minyak gas lebih senang
menyulut api, meledak-ledak

Mei yang suci
waktumu sudah habis
tak usah gebrak-gebrak meja
apalagi entak kaki ke bumi

Takbir telah terucap
petasan kembang api mencuar
(tidak) di sana aku berdiri
tanah tertumpah darah

2019


Pada Secangkir Teh

Aku berdoa
pada secangkir teh

Malam ini
kembalikan kedamaian

yang kemarin terkapar
dilempari batu-batu
bom molotov

Pindahkan ibu di kota
ke hutan belantara

Tapi jangan jadikan
sebatang pohon
berbaris dan sembunyi

dalam sekotak
tusuk gigi

2019 

Ke Mana Puisiku Sekarang?

Jika kau tanya
“ke mana puisimu
sekarang?”

Mereka sedang
berjihad
Kata-kata melepaskan
diri dari kotak
suara. Mencari
jalan baru

Kau cerewet sekali
dan bertanya
lagi “di mana puisimu
sekarang?”

Mereka berada
di tanah
suci, mengubur segala
rendah untuk
menemukan seorang
fitri

2019 


Pulang

Dua hari lalu
Pemuka agama
diberitahukan telah
memesan tiket kereta
ke surga

Kepergiannya
disambut warga
dengan batu
dan bom molotov

Dan polisi bertameng
menyambut dengan
dada yang sesak
“Bapak kapan pulang?” anak balita menyapa
di ujung telepon
“aku mau main sama Bapak. Mau disuapi Bapak
Mau dimandiin Bapak.”

Mei, 2019

Bersama Ilham: Di Meja Panjang Kantin Karyawan pada Jam Makan Siang

Semua puisi Ilham memperkaya pengalaman saya yang tak pernah mengalami peristiwa khas yang ia puisikan. Tapi puisi bukan catatan di buku harian. Itu baru bahan untuk dipuisikan, dengan memberdayakan seluruh potensi bahasa dan alat-alat puitika. Hal itulah yang saya dapatkan paling banyak pada puisi yang keempat. Selamat menikmati…

Catatan Pengantar:
Bahasa puisi membentang antara yang diafan dan yang prismatis. Yang diafan itu terang-benderang. Bisa dimengerti sekali baca. Yang prismatis itu dibikin menyimpang dari bahasa sehari-hari, memancing pembacaan dan pemakanaan yang berbagai ragam.

Penyair harus meletakkan puisi di antara dua titik itu, agar puisinya tak jatuh menjadi teks yang membosankan karena terlalu cair, dan tak juga menjadi dekoratif, berbunga-bunga, atau tak terpahami karena terlalu gelap.

Pengalaman sehari-hari, peristiwa yang dialami, dan tanggapan perasaan atas peristiwa itu, adalah bahan untuk dituliskan menjadi puisi. Terutama puisi lirik, yang memang mengandalkan kecermatan mengalami peristiwa alam sekitar, dan kemampuan merumuskan perasaan untuk disatukan dengan peristiwa alam itu, menjadi bait-bait puisi.

Penyair harus melakukan eksperimen pengucapan terus-menerus dari puisi ke puisinya, agar penyatuan kedua hal itu menjadi sublim dan wajar. Jika melulu hanya catatan peristiwa maka puisinya tak lebih dari laporan pandangan mata. Jika melulu perasaan puisinya hanya menjadi sajak yang sentimentil. Keduanya tak cukup bernilai puisi.

Ilham Rio Baramika (Jambi, 12 Agustus 1995), lulusan Universitas Ritsumeikan Asia Pacific, yang kini bermukim di Tokyo, mengirimkan empat puisi yang kita tampilkan kali ini. Jika saya seorang juri lomba penulisan puisi, dan empat puisi ini dikirim oleh empat peserta yang berbeda, dan saya harus memilih satu puisi terbaik, maka saya memilih puisi yang keempat (“Di Meja Panjang Kantin Karyawan Pada Jam Makan Siang”). Kenapa? Karena puisilah yang paling mendekati dua kriteria puisi yang baik yang diuraikan di atas.

Semua puisi Ilham memperkaya pengalaman saya yang tak pernah mengalami peristiwa khas yang ia puisikan. Ia pengamat dan pencatat yang cermat. Ini bekal sangat penting untuk menulis sajak liris dan sajak imajis yang kuat. Tapi puisi bukan catatan di buku harian. Itu baru bahan untuk dipuisikan dengan memberdayakan seluruh potensi bahasa dan alat-alat puitika. Hal itulah yang saya dapatkan paling banyak pada puisi yang keempat. Puisi itu tidak lagi saya hanya sebagai catatan pengalaman seorang berpuasa di negeri Jepang, tepatnya di meja ruang makan karyawan di sebuah perusahaan di Jepang pada jam makan siang. Ia melampaui peristiwa yang menjadi sumber bahan yang dipuisikan. Saya tergoda untuk terus mengulang membaca dan menikmati setiap perasaan dan imajinasi melanda setiap kali menelusuri bait-baitnya. Selamat menikmati… ha/LS

Di Pelataran Terminal 3 Narita

Karena sering terbang murah
aku jadi terbiasa menimbang
dan memilah

seperti penerbangan yang sudah sudah
usai memilah keresahan
di pelataran gerbang keberangkatan

demi menghindari batas muatan
rindu lekas aku tanggalkan
tepat sebelum koper naik
ke atas timbangan

“Jangan ditinggal lagi, kali ini kita tempel saja
dengan label barang pecah belah”
tawar petugas kargo terminal
yang mulai nakal

Aku bimbang
Aku resah
sialan! aku ditinggal terbang.

Di suatu Jeda dari Tepian Taman Inokashira

Gelap rapi memangkas rindang dalam sekejap
sudut demi sudut
hingga musim gugur
sempurna mengambil wujud

Telinga yang tersumbat rasa sungkan
tak kunjung berkenalan dengan petikan gitar musisi
yang selepas dari petang melantun tembang
tanpa menerima sepeser pun basa basi

Separuh bulan
tenggelam ke dasar kolam
kata demi kata
mulai gugur ke tepian
bersama kontemplasi setengah utuh
dari sepenggal puisi yang urung tersentuh

Di bawah redup lampu taman

secangkir kopi yang diracik tanpa percakapan
tak mampu menghangatkan musim
dan dingin kota yang semakin asing.

(27 Oktober/17.30/ Dari pinggiran hiruk pikuk Tokyo)

Dari Pojok Timur Stasiun Beppu

Ada pergantian musim,
sedari melintasi empat persimpangan
yang di mana laju waktu
tertahan
oleh lampu merah di musim gugur.

Kita menunggu di pojok timur,
sehabis membuang muka dari rutinitas
jauh di luar pintu sebelah barat stasiun

Kau bertanya,
“kenapa kita tidak naik kereta saja?”
Aku mulai ragu
sepertinya kau terburu-buru,
lebih dari turis yang sejak tadi
lalu-lalang
sibuk mencari ke arah mana jalan pulang

jujur saja aku tidak ingin buru-buru.
Dan stasiun ini memang bukan
untuk penumpang yang tergesa gesa.

Aku minta kau bercerita lebih banyak lagi
tentang apa saja
bukan lagi tentang mu pun tak apa juga
asal bukan tentang jadwal keberangkatan kereta.

Namun kau sudah terlanjur diburu waktu,
stasiun ini bukan lagi ruang tunggumu.

Kau pun berlalu
bersama sesak penumpang yang bergantian hilang
Seperti teduh siang bolong
yang hanya menyisakan terik,
ketika hengkang sepanjang obon.

dan aku menunggu di pojok timur,
sendirian menenggak musim panas
yang kini tersisa kurang dari setengah gelas.

Di Meja Panjang Kantin Karyawan pada Jam Makan Siang

Ia lahap menyantap sepenggal puisi
Bait demi bait
Agar niat puasa yang tersimpan rapi,
Dalam sekotak bento onigiri
Terjaga hangat hingga malam

Walau sebenarnya ia paham
Sia-sia menunggu azan
Dari balik lonceng – lonceng kuil di penghujung gang

Dalam detak jam
yang tak letih memuja detik yang hilang
kering pada pangkal tenggorokan
hanya sebagian pertanda
dari neraka yang sedang lengang.

(Tokiwa – Jepang, Mei 2019 – Ramadhan 1440 H)

Pasya Alfalaqi: Energi Pencarian dalam Empat Sajak

Ada masa-masa ketika seorang penyair mencari sebelum menemukan sesuatu. Menemukan cara ucap yang khas dirinya. Pasya, mahasiswa aktif jurusan Sastra Inggris di Universitas Negeri Jenderal Soedirman, Purwokerto, sedang dalam proses pencarian itu. Dia akan menemukan dirinya. Empat sajaknya menampakkan energi pencarian yang besar.

Catatan Pengantar: PUISI menjadi ikhtiar pengucapan yang menarik karena bahasa memungkinkan kita untuk mengungkapkan satu hal dengan berbagai kemungkinan. Di situ juga hakikat seni berada. Seni apapun, termasuk puisi. Seniman satu bisa dibedakan dengan seniman lain, penyair satu lebih unggul dengan penyair lain karena caranya mengungkapkan hal-hal yang sama. Tema berulang. Tema abadi. Kebaruan berada pada cara ucap itu. Jebakan klise ada pada cara ucap itu. Pasya Alfalaqi (lahir 14 Oktober 1998 di Pemalang, Jawa Tengah) mencoba berbagai cara ucap di empat sajaknya yang bicara seputar soal cinta, kesepian, perpisahan. Ia mencoba berbagai cara. Ia mencoba menulis dengan bahasa yang prismatis, juga bahasa yang transparan. Ia mencoba memakai bahan ucap baru, lewat peristiwa makan ketoprak misalnya. Atau lewat peristiwa “makan indomi”. Ada masa-masa ketika seorang penyair mencari sebelum menemukan sesuatu. Menemukan cara ucap yang khas dirinya. Pasya, mahasiswa aktif jurusan Sastra Inggris di Universitas Negeri Jenderal Soedirman, Purwokerto, sedang dalam proses pencarian itu. Dia akan menemukan dirinya. Empat sajaknya menampakkan energi pencarian yang besar. – HA/LS

Di Persimpangan

di persimpangan.
aku mengambil kiri, engkau
menuju kanan.

lampu bergerak hijau.

mata kita menyala merah.

2018

Ini Sajak Pendek Yang Diakhiri Dengan Ajakan Menari

melihat engkau
khusyuk memetik gitar
jiwa bergetar.

bulan di langit
seperti menyanyikan
lagu cahaya.

angin berembus.
daun-daun hatiku
mengangguk pelan.
mari menari!
lepas kehendak cakar
kita bahagia.

2018

Mamam Ketoprak

mamam ketoprak. warung tenda
di bahu jalan. hati yang galau
menjelma tumpukan bihun yang
bening dan mudah putus.
bekas semalam tak lebih berisik
dari kriak-kriuk kerupuk.
percakapan hanya bermodal
sedikit keberanian, sedikit malu,
sedikit sabar, sedikit mikir, bumbu.
lontong dan ketupat
nambah seribu kalau pingin agak banyakan.
karena perut terlalu kosong
dan dompet agak gemukan,
aku pilih opsi dua.
yang harus diingat setelah
mamam ketoprak:
jangan kebanyakan nyengir
karena remukan kacang
banyak nyangkut di gigi depan.

2019

Cinta

ketika di tanggal tua
kau terpaksa menggulung tubuhmu
di hadapan film unduhan
situs web ilegal,
ia datang sebagai malaikat
tak bersayap;
di tangannya
sebuah piring plastik
berisi indomi dobel
dan dua garpu.

2019